|
Temu Alumni, Berbagi Pengalaman di Fakultas Psikologi |
|
|
|
UMK- Bukan sekedar obat penawar kerinduan bagi para mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Muria Kudus (FPsi-UMK) lulusan April 2008 sampai April 2010, mereka dipertemukan di ruang sekretariat FPsi UMK. Melainkan Temu Alumni itu, dijadikan ajang berbagi pengalaman antar alumni untuk bahan evaluasi pembelajaran fakultas guna memperkaya kajian mata kuliah yang dibutuhkan pada dunia kerja. Minggu pagi (16/05), pukul sembilan Anggranis yang biasa dipanggil Nia telah sampai dan duduk di depan Fakultas Psikologi UMK seorang diri, karena jarak yang jauh Nia harus berangkat lebih pagi. Nia pun kemudian menanti kehadiran teman-teman se bangku kuliahnya dulu, selama setengah jam sebelum acara temu alumni di mulai. Satu jam berikutnya para alumni duduk melingkar dan suasana gelak tawa sesekali pecah bila salah satu dari mereka mengenang perbedaan mereka saat masih kuliah. Meski terkesan serius tapi santai (sersan), para alumni merasakan kenyamanan dalam mengikuti acara itu. “Pengalaman apa sih yang dibutuhkan di dunia kerja?,” sekertaris fakultas Fakultas Psikologi UMK, M. Widjanarko, S.Psi., M.Si mengawali pertemuan tersebut. Pengalaman di lapangan, jawab Erna yang sekarang bekerja pada bagian rekrutment karyawan di salah satu perusahaan di Kota Kudus, yang menurutnya penting di lakukan dalam bentuk magang pada perusahaan selain pengalaman organisasi. “Selain itu, keahlian konseling juga perlu diperkuat” tambah Zulim, yang sekarang berprofesi sebagai guru bimbingan konseling di MTS Muhamdiyah. Berdasarkan pengalaman Zulim, masyarakat beranggapan bahwa sarjana psikologi memiliki problem solving yang akurat dalam memecahkan permasalahan yang terjadi baik dalam dunia maupun masyarakat. Lain halnya Ida, yang tengah konsen dengan butik barunya merasa teori-teori perkulihan yang diajarkan selama ini sudah baik, namun perlu diimbangi dengan praktek, ia mencontohhkan untuk mata kulih perburuhan dan industri agar lulusan kedepan tidak awam terhadap konsumen. Sejenak perbincangan terhenti, laboran FPsi UMK, Rizka Alyna yang memandu melanjut kan dengan menanyakan apa lagi yang bisa di pakai dalam dunia kerja. “dulu saya mengira, di sosial teori-teorinya itu tidak terpakai, tapi ternyata di pakai untuk merekrut anggota yang berjiwa sosial dan non money oriented misalnya,” terang alumni yang menjadi Direktur di salah satu LSM di Pati, Pudji. Dari kesebelas alumni yang hadir dalam acara tersebut, mereka merasa apa yang telah dijarkan dosen-dosen FPsi UMK sudah baik, dan mampu dijadikan bekal yang bisa aplikasikan di dunia kerja. Melalui pertemuan itu, para alumni mengharap sarana komunikasi semacam ini, bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi fakultas dalam menjaga keseimbangan antara teori yang diajarkan dengan apa yang terjadi di lapangan, agar mahasiswa lulusan FPsi UMK semakin berkualitas. Nia, salah satu alumni yang berkerja di RSU Jepara bagian kehumasan berharap adanya jaringan alumni yang bisa solid untuk berkomunikasi, terutama sharing pekerjaan (Kholidin/Portal UMK)
|
|
|
Profil Alumni |
|
|
|
Muslimin-dok Portal Membangun Desa dengan Bahasa
UMK- Bagi kalangan civitas akademika Universitas Muria Kudus (UMK), sosok Muslimin tidaklah asing. Alumnus FKIP Bahasa Inggris ini, juga salah satu yang membidani persiapan berdirinya majalah mahasiswa Pena Kampus (Peka).
Tetapi bukan lantaran di Peka saja namanya dikenal luas oleh publik, terutama di Kabupaten Kudus ini. Kiprahnya yang besar di masyarakat, itulah yang ikut meroketkan namanya dikenal luas seperti sekarang. Pemuda kelahiran Desa Temulus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah ini, sewaktu masih menyandang status mahasiswa, tidak hanya menjadi jago kandang.
Sebagai wartawan kampus, ia tidak hanya menulis di majalahnya sendiri. Tetapi ia juga mampu menunjukkan taringnya, dengan menulis di berbagai media massa profesional. Tak sedikit tulisan (artikel)-nya yang sudah menghiasi media massa. Di antara media yang pernah memuat tulisannya adalah Suara Merdeka, Kompas dan Jawa Pos Radar Kudus. Tak hanya itu, ia juga sering kali melakukan lawatan ke berbagai kota sewaktu masih mahasiswa, dengan menjalin hubungan dengan sesama aktifis baik di Semarang, Yogyakarta, Jakarta maupun mahasiswa lain di Indonesia. Seringnya berkomunikasi dengan banyak teman-teman aktifis mahasiswa, maka pemikiran kita akan semakin luas. Paradigma berpikir kita juga tidak akan mengalami stagnasi, kata Muslimin.
Kampung Bahasa Muslimin sudah memiliki cukup bekal untuk menghadapi tuntutan zaman yang semakin global. Muslimin yang fasih berbahasa Inggris tersebut, juga memiliki skill menulis yang lumayan bagus. Kepiawaiannya dalam berbahasa Inggris, menjadi inspirasi untuk membagikan apa yang dimilikinya tersebut. Pengalaman waktu memperdalam kemampuan bahasa Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, menjadi bekal berharga dalam mengelola kampung Bahasa Inggris yang kelak didirikan bersama kawan-kawannya. English for Beginner (EFB). Demikian ia menyebut lembaga pendidikannya bagi masyarakat di kampungnya, di Desa Temulus. Babak baru kehidupan masyarakat pun dimulai. Yaitu masyarakat yang semakin mahir berbahasa inggris. Lambat laun, tak hanya kefasihan masyarakat dalam berbahasa inggris saja yang menambah warna tersendiri Desa Temulus, Kecamatan Mejobo. Tetapi aktivitas lain pun semakin hidup dengan lahirnya komunitas tersebut. Berbagai kegiatan yang bersifat ilmiah, sering digelar di sini. Diskusi dan ceramah-ceramah yang bertujuan untuk menambah wawasan masyarakat dan generasi muda. Di antara narasumber yang pernah diundang adalah dr Iwan Setiawan, pakar Psikologi Remaja dari Semarang. Ya, kiprah dan kepedulian Muslimin, patut menjadi teladan dan tentunya membanggakan bagi almamaternya..Belum seberapa apa yang saya dan teman-teman lakukan. Baru sebatas ini yang bisa saya lakukan untuk bangsa ini,tambah Muslimin. [hoery/rosidi-Portal]
|
|
|
|
|
|
|