Oleh Ulin Nuha Masruchin
Ende, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menyimpan segudang cerita tentang ke-Indonesia-an. Mengamati jarak dekat, kehidupan di Ende bak miniatur Indonesia yang unik. Nilai ke-Indonesia-an beserta perniknya berupa pluralitas etnis, ras, budaya, agama, yang saling berdampingan itu terikat kuat. Keberagaman berwarna dengan heterogenitas sosio-kultural merupakan pesan singkat arti perdamaian dan kebersamaan. Di sini, semaian benih-benih rasa toleransi tinggi, simpati, saling menghargai sesama anggota masyarakat begitu terasa.
Tanpa disadari, budaya saling menghargai dan damai sudah berjalan sejak lama di Ende. Mungkin, lantaran warisan sejarah, Pancasila lahir di sini. Merunut catatan sejarah, tahun 1935 Bung Karno diasingkan penjajah di daerah Ende. Selama pengasingannya, Bung Karno terus berpikir untuk kemerdekaan Indonesia. Di suatu waktu, ia berkontemplasi dan bermenung diri dipayungi pohon sukun (Artocarpus altilis) bercabang lima. Konon, jumlah cabang lima ini telah menginspirasi Bung Karno merumuskan Pancasila.
Artikel
Pancasila dan Pesan Toleransi dari Ende
Naskah Juara I UMK Media Competition
Darul Ilmi dan ’Peradaban Baru’ Pantura Timur Jateng
Masjid Darul Ilmi di UMK, bisa menjadi pionir untuk melahirkan ”peradaban baru” bagi dunia intelektual sekaligus memberikan kontribusi positif dalam membangun bangsa, khususnya di wilayah Pantura Timur Jateng.
DI ruang yang cukup luas, sekitar satu bulan sebelum menjabat sebagai Koordinator Staf Ahli (Kosahli) Kepolisian Republik Indonesia, tepatnya 1 Juni 2011, Irjen Polisi Edward Aritonang menjadi salah satu narasumber dalam seminar ”Revitalisasi Pendidikan Karakter sebagai Upaya Melindungi Generasi Bangsa” yang diselenggarakan Universitas Muria Kudus (UMK).
Edward Aritonang, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jateng, bersama tiga narasumber lain, yaitu Dr Ahmad Tafsir MAg (IAIN Walisongo Semarang), Drs Muchamad Yuliyanto MSi (Undip Semarang), Iskandar Wibawa SH MH (Korda FKA-ESQ Kudus) dan Prof Dr dr Sarjadi SP PA (Rektor UMK) sebagai keynote speaker, didaulat mengemukakan berbagai perspektifnya di seminar memeringati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Darul Ilmi di perguruan tinggi terbesar di wilayah Pantura Timur Jateng itu.
Sumber Suara Merdeka, 6 Agustus 2011
Kurikulum Berbasis Kompetensi di PT
KURIKULUM pendidikan di perguruan tinggi (PT) telah mengalami perubahan. Hal ini sesuai dengan Surat Keputusan Kementerian Pendidikan Nasional nomor 045/U/2002. Keputusan ini menuntut semua PT, baik negeri maupun swasta, mengubah kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).
Keputusan Kemendiknas ini mengarah atas saran The International Bureau of Education dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau lebih dikenal dengan The International Commission on Education for the 21st Century. Komite ini mengarahkan PT untuk memegang empat pilar dasar yang terdiri atas learning to know (belajar untuk tahu), learning to do (belajar untuk melakukan), learning to be (belajar untuk menjadi) dan learning to live together (belajar untuk hidup bersama).
Di sini, mahasiswa dituntut untuk bisa melakukan tindakan cerdas, penuh tanggungjawab, sebagai syarat untuk di anggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas di bidangnya, dan masyarakat adalah penilainya.
Belajar Dari Sumur Rumah Adat Kudus
Oleh : Zakki Amali
Kebutuhan air bagi manusia sangat mutlak. Pada masyarakat tradisional, saat mesin pompa air belum dikenal, manusia menggali tanah untuk mendapatkan air. Di daerah yang tidak dekat dengan sumber air, seperti sungai dan mata air, manusia membuat sumur untuk memenuhi kebutuhannya.
Saat ini, Konsep tentang sumur telah berkembang. Dalam keluarga. sumur merupakan salah satu instrumen kebutuhan sehari-hari yang tak dapat ditinggalkan. Maka, untuk memenuhinya konsep sumur dilekatkan dengan tata ruang sebuah rumah.
Dalam konsep rumah adat Kudus, sumur terletak di luar rumah. Tidak seperti konsep rumah sekarang yang menempatkan sumur di dalam rumah, atau bahkan mereduksinya dengan teknologi : pompa air.
Letak sumur dalam Rumah Adat Kudus sarat makna. Setidaknya ada tiga makna filosofis di dalamnya (Nawanto, 2009). Pertama, merupakan media perjodohan. Dahulu perempuan Kudus masa mudanya dipinggit, tidak boleh keluar dari rumah. Langkah ini untuk menjaga agar anak perempuannya tidak berperangai jelek di kemudian hari. Era ini mengingatkan kita pada kisah RA Kartini yang pinggit sewaktu muda dan hendak menikah.
Mutilasi Pendidikan
Oleh Zamhuri
Salah satu problem yang memprihatinkan dunia pendidikan saat ini adalah menurunnya kualitas perilaku peserta didik (siswa & mahasiswa). Sebagian dari mereka berperilaku kurang mencerminkan diri sebagai seorang yang sedang menyandang status pelajar/mahasiswa. Seperti berperilaku amoral, anarkis, asosial dan bentuk anomali perilaku lainnya. Perilaku tersebut sangat kontra produktif dengan watak dunia pendidikan. Hasil belajar tidak hanya pengetahuan dan teknologi, tetapi jauh lebih utama adalah terbentuknya watak dan karakter yang baik dan unggul.
Banyak pihak berharap peran aktif lembaga pendidikan dalam pembentukan karakter bangsa (nation caracter). Karena karakter bangsa merupakan modal utama mempertahankan eksistensi dan membangun bangsa ke depan. Tanpa karakter bangsa sulit rasanya mendisain arah perkembangan bangsa. Karena itu, sangat tepat jika Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengangkat tema ”Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa” sebagai tema Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2010.
Lembaga pendidikan harus mulai memformat dalam mengembangkan karakter peserta didik yang sifatnya kualitatif. Dengan begitu, dunia pendidikan tidak hanya berperan sebagai agen transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga berperan sebagai agen untuk transfer sistem nilai.
Menurut Profesor Muhammad Nuh (Mendiknas), untuk menerapkan pendidikan karakter, ada empat langkah yang harus ditempuh yaitu. Pertama, harus ada perubahan paradigma di dalam proses dan sistem pendidikan atau belajar-mengajar. Kedua, peran staf pengajar (guru) yang berfungsi sebagai role models atau keteladanan (uswatun khasanah) harus ditonjolkan. Ketiga, membangun kultur di dalam tiap lembaga pendidikan yang bersumber dari budaya yang ada sebagai media yang kondusif untuk membentuk karakter tersebut. Keempat, perlunya dukungan terhadap aturan atau regulasi dari sistem pendidikan.
Halaman 1 dari 4

