Menu

Artikel

Kemandirian Kunci Bangkitkan Generasi Emas Indonesia

Komunitas belajar Qaryah Tayyibah misalnya, dalam pembelajaran mereka memanfaatkan sumberdaya lokal semacam petani, budaya dan sumberdaya lokal Salatiga sebagai sumber pembelajaran. Meski begitu, teknologi modern juga tidak ditinggalkan sebagai media berkarya.
Melalui pendidikan berbasis lokal dan kemandirian dalam pembelajaran, tambahnya, secara otomatis akan terbentuk komunitas belajar, masyarakat pembelajar. Bahkan, dalam jangka lebih panjang akan terwujud masyarakat yang cerdas.
Senada dengan Burhanuddin, Prof. Suprijoko menunjukkan tokoh lokal sebagai inspirator dalam pendidikan, misalnya Ki Hajar Dewantoro. Mempersiapkan generasi emas tentunya tidak terlepas dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Konsep pendidikan anak sebenarnya telah dikembangkan oleh KH Dewantoro pada 1922 melalui Taman Indria. Pembelajan dilakukan dengan cara bermain (dolanan). “Pemikiran dan praktik pendidikan yang dijalankan tokoh pendidikan nasional tersebut perlu ditiru untuk mewujudkan gagasan Generasi Emas Indonesia,” ujarnya.
Merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantoro, kemajuan pendidikan, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab pendidikan. Ada tiga pusat pendidikan sebagaimana dikenal dalam konsep Trisentra, yakni keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat. “Peran keluarga dan masyarakat inilah yang perlu dimaksimalkan,” katanya.
Sementara itu, menurut Prof. Mungin, untuk mewujudkan generasi emas mendatang, paradigma pendidikan juga harus diubah. “Bukan teaching tapi learning, guru bukan hanya mengajar akan tetapi mampu membangkitkan siswa untuk belajar mandiri,” tuturnya.
Aktivitas mendidik, olehnya diartikan sebagai seni agar siswa dapat menikmati pemelajaran yang di hadapi. Ia khawatir dengan paradigma yang muncul pada sebagian oknum guru. Pasalnya, guru yang seharusnya dimaknai sebagai mendidik akan tetapi dipahami sebagai sekadar profesi.
“Tidak sedikit pendidik karbitan, karena seleksinya saja sekadar kognitif bukan kepribadian. Namun begitu, tidak sedikit pula guru yang baik dan pantas menjadi teladan,” katanya.
Gagasan Generasi Emas muncul lantaran kondisi jumlah penduduk Indonesia yang lebih banyak dibandingkan usia tua. Pasalnya, saat ini terdapat 88 juta penduduk Indonesia usia 0-19 tahun. Hal ini disebut sebagai demography bonus atau demography deviden. Sehingga 100 tahun kebangkitan nasional, pada 2045, generasi muda Indonesia diharapkan mampu bersaing secara global.
Gagasan Siswa SD
Selain seminar, panitia juga menghimpun ide dan gagasan siswa-siswi sekolah dasar (SD) di Kabupaten Kudus dalam bentuk tulisan. Sebanyak 18 tulisan yang terkumpul akan disusun dalam sebuah buku. Selain itu juga terdapat delapan paper akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah-DIY.
“Hasil seminar dan tulisan-tulisan siswa akan dikirimkan kepada Kemendiknas sebagai sumbang saran terkait strategi mewujudkan generasi emas Indonesia,” ungkap ketua panitia, Susilo Rahardjo, M.Pd.
Gagasan siswa dihimpun karena merekalah sebagai salah satu subjek calon Generasi Emas Indonesia ke depan. “Disamping itu, gagasan dan ide anak-anak kan masih murni, belum terkontaminasi oleh kepentingan tertentu,” jelasnya. (Farih/Hoery-Portal)

Info Kopertis Wilayah VI

Info Dikti

Tajug

Sinergi Penguatan UMKM Menghadapi MEA

Oleh Dr. Zainuri, MM.

Kontribusi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Betapa tidak, pada 2011, PDB dari sektor UMKM mencapai 56,6 % dan menyerap 97 % dari tenaga kerja nasional (BPS, 2012 ).


UMK Menghadapi Tantangan Global

Dr. A. Hilal Madjdi, M.Pd.

Universitas Muria  Kudus (UMK) memilii Identitas dan kepribadian yang termanifestasi dalam jargon “Culture University”. Pemaknaan “Culture University”, mengarah pada bagaimana UMK mengembangkan kebajikan (excellent) yang direalisasikan dalam kegiatan Tri  Dharma Perguruan Tinggi, dengan merujuk pada nilai-nilai dan kebajikan wilayah, berbekal “local wisdom” dan “local norms” yang dikenal luas masyarakat Kudus, yakni Laku Bagus, Pintar Mengaji, dan Pandai Berdagang (Gusjigang).


Urgensi Pendidikan Vokasi di Perguruan Tinggi

Oleh Dr. Suparnyo, SH. MS.

Alinea keempat  Undang Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia 1945, antara lain menyebutkan, tujuan didirikannya negara Republik Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Pengunjung

00574179
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
1245
3855
14526
535455
5100
111423
574179

IP: 54.91.57.221
Jam Server: 2015-04-02 07:18:42

Kami memiliki 37 tamu online

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Blog Staff
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Alumni SI
Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top