Image1 Image2 Image3 Image4 Image5 Image6
Loading

Kemandirian Kunci Bangkitkan Generasi Emas Indonesia

Email Cetak

UMK – Pendidikan berbasis kemandirian ditengarai menjadi kunci untuk mewujudkan gagasan Generasi Emas Indonesia sebagaimana telah dicetuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional (Kemendiknas) pada momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Mei lalu.
Hal ini diungkapkan pendiri Kelompok Belajar Qaryah Tayyibah, Salatiga, Ahmad Bahruddin dalam Seminar Nasional bertajuk “Merajut Generasi Emas Indonesia” yang digelar oleh Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (15/09) di Auditorium UMK. Selain Bahruddin seminar juga menghadirkan Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. (Kepala Badan Standar Pendidikan Nasional/BSNP), Prof. Dr. Ki Suprijoko, M.Pd. (Ketua Pendidikan dan Kebudayaan Majlis Luhur Taman Siswa Yogyakarta) serta Dr. Sukirman, M.Pd. (Dosen UMK).
“Generasi emas adalah generasi mandiri. Jadi pendidikan yang diberikan juga harus berbasis lokalitas,” ujar Bahruddin menyarankan. Sumber daya lokal dapat dimanfaatkan secara maksimal. Ia mengaku prihatin dengan kondisi Indonesia yang limpahan sumber daya alamnya rusak oleh eksploitasi yang dilakukan perusahaan asing.

Komunitas belajar Qaryah Tayyibah misalnya, dalam pembelajaran mereka memanfaatkan sumberdaya lokal semacam petani, budaya dan sumberdaya lokal Salatiga sebagai sumber pembelajaran. Meski begitu, teknologi modern juga tidak ditinggalkan sebagai media berkarya.
Melalui pendidikan berbasis lokal dan kemandirian dalam pembelajaran, tambahnya, secara otomatis akan terbentuk komunitas belajar, masyarakat pembelajar. Bahkan, dalam jangka lebih panjang akan terwujud masyarakat yang cerdas.
Senada dengan Burhanuddin, Prof. Suprijoko menunjukkan tokoh lokal sebagai inspirator dalam pendidikan, misalnya Ki Hajar Dewantoro. Mempersiapkan generasi emas tentunya tidak terlepas dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Konsep pendidikan anak sebenarnya telah dikembangkan oleh KH Dewantoro pada 1922 melalui Taman Indria. Pembelajan dilakukan dengan cara bermain (dolanan). “Pemikiran dan praktik pendidikan yang dijalankan tokoh pendidikan nasional tersebut perlu ditiru untuk mewujudkan gagasan Generasi Emas Indonesia,” ujarnya.
Merujuk pada pemikiran Ki Hajar Dewantoro, kemajuan pendidikan, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab pendidikan. Ada tiga pusat pendidikan sebagaimana dikenal dalam konsep Trisentra, yakni keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat. “Peran keluarga dan masyarakat inilah yang perlu dimaksimalkan,” katanya.
Sementara itu, menurut Prof. Mungin, untuk mewujudkan generasi emas mendatang, paradigma pendidikan juga harus diubah. “Bukan teaching tapi learning, guru bukan hanya mengajar akan tetapi mampu membangkitkan siswa untuk belajar mandiri,” tuturnya.
Aktivitas mendidik, olehnya diartikan sebagai seni agar siswa dapat menikmati pemelajaran yang di hadapi. Ia khawatir dengan paradigma yang muncul pada sebagian oknum guru. Pasalnya, guru yang seharusnya dimaknai sebagai mendidik akan tetapi dipahami sebagai sekadar profesi.
“Tidak sedikit pendidik karbitan, karena seleksinya saja sekadar kognitif bukan kepribadian. Namun begitu, tidak sedikit pula guru yang baik dan pantas menjadi teladan,” katanya.
Gagasan Generasi Emas muncul lantaran kondisi jumlah penduduk Indonesia yang lebih banyak dibandingkan usia tua. Pasalnya, saat ini terdapat 88 juta penduduk Indonesia usia 0-19 tahun. Hal ini disebut sebagai demography bonus atau demography deviden. Sehingga 100 tahun kebangkitan nasional, pada 2045, generasi muda Indonesia diharapkan mampu bersaing secara global.
Gagasan Siswa SD
Selain seminar, panitia juga menghimpun ide dan gagasan siswa-siswi sekolah dasar (SD) di Kabupaten Kudus dalam bentuk tulisan. Sebanyak 18 tulisan yang terkumpul akan disusun dalam sebuah buku. Selain itu juga terdapat delapan paper akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Tengah-DIY.
“Hasil seminar dan tulisan-tulisan siswa akan dikirimkan kepada Kemendiknas sebagai sumbang saran terkait strategi mewujudkan generasi emas Indonesia,” ungkap ketua panitia, Susilo Rahardjo, M.Pd.
Gagasan siswa dihimpun karena merekalah sebagai salah satu subjek calon Generasi Emas Indonesia ke depan. “Disamping itu, gagasan dan ide anak-anak kan masih murni, belum terkontaminasi oleh kepentingan tertentu,” jelasnya. (Farih/Hoery-Portal)

Read : 642 times

Add comment


Security code
Refresh

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Agroteknologi
Teknik
Psikologi

 

Pasca Sarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

 

Links:

 

Fasilitas

UMK Repository

Library Gateway

E learning

Info Muria

Blog Staff

Muria Studies

Jurnal

Jurnal Internasional

Portal Ketrampilan Wajib

 

 

Barcode:

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria

Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

 

 

 

 

QR Code

Kemahasiswan

Portal Akademik

Info Kemahasiswaan

Alumni SI

Pena Kampus

Hubungi Kami

Universitas Muria Kudus

Gondangmanis PO.BOX 53

Bae 59324 Kudus

Jawa Tengah - Indonesia

 

Telp: 0291-438229

Fax: 0291-437198

Email: muria@umk.ac.id