KUDUS - Ada yang beda dalam gelaran Kudus Art and Fashion Carnival (Karsival) 2012. Pada atraksi budaya yang rencananya dilangsungkan 29 September mendatang, Kudus Kota Kretek (K-3) dipilih sebagai tema.
Terpilihnya tema tersebut, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Hadi Sucipto SPd MM melalui Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata Sancaka Dwi Supani SPd MPd, tidak lepas dari peran kretek sebagai salah satu keunggulan Kabupaten Kudus. Kretek telah memberikan sumbangan besar bagi perekonomian masyarakat dan bangsa.
''K-3 dipilih sebagai tema, karena ini adalah salah satu keunggulan Kabupaten Kudus. Apalagi Kudus secara resmi juga menyandang ikon sebagai Kota Kretek yang ditandai pula dengan keberadaan Museum Kretek,'' terangnya menjelaskan tema pertunjukan tahunan yang akan digelar kedua kalinya ini.
Selain dalam rangka mempromosikan potensi wisata dengan atraksi budaya, melalui Karvisal, diharapkan muncul kesan tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung. Kegitan dipandang efektif untuk mengenalkan berbagai potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Tidak mudah untuk menggarap tema ini dalam ajang Karsival. Butuh persiapan khusus agar para peserta Karsival bisa tampil sesuai tema.
“Terlebih dahulu, Kami akan menggelar workshop untuk calon peserta Karsival. Agar saat digelar, mereka sudah benar-benar siap,'' tambah Supani. Ia menuturkan, peserta workshop tidak dipungut biaya alias gratis.
Di luar mempersiapkan agenda Karsival itu, jelas Supani, sejak tiga tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus melalui Disbudpar berkomitmen mendorong pengembangan sektor pariwisata di Kudus. Hal itu ditandai dengan ditahbiskannya desa wisata, antara lain Desa Jepang (Mejobo), Desa Colo (Dawe), Desa Wonosoco (Undaan), dan Desa Gondoharum (Jekulo). Pihaknya akan berpartisipasi aktif nguri-uri tradisi yang berkembang di masyarakat, seperti tradisi Dandangan (Menara), Rebo Wekasan (Desa Jepang), Ampyang Maulid (Desa Loram Kulon), dan Maulidan Jawiyan (Desa Padurenan).
“Disbudpar (pemerintah) berperan men-support pendanaan dan pembinaan dalam berbagai kegiatan budaya yang digelar. Sementara masyarakat setempat aktif di kepanitiaan penyelenggaraan,” jelasnya.
Melalui berbagai kegiatan budaya, pihaknya berharap, sektor pariwisata akan meningkat dan membuka peluang-peluang usaha baru. “Dampaknya positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat,'' ujar Supani. (Ros/Hoery-Portal)



