Oleh Ulin Nuha Masruchin
Ende, salah satu kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menyimpan segudang cerita tentang ke-Indonesia-an. Mengamati jarak dekat, kehidupan di Ende bak miniatur Indonesia yang unik. Nilai ke-Indonesia-an beserta perniknya berupa pluralitas etnis, ras, budaya, agama, yang saling berdampingan itu terikat kuat. Keberagaman berwarna dengan heterogenitas sosio-kultural merupakan pesan singkat arti perdamaian dan kebersamaan. Di sini, semaian benih-benih rasa toleransi tinggi, simpati, saling menghargai sesama anggota masyarakat begitu terasa.
Tanpa disadari, budaya saling menghargai dan damai sudah berjalan sejak lama di Ende. Mungkin, lantaran warisan sejarah, Pancasila lahir di sini. Merunut catatan sejarah, tahun 1935 Bung Karno diasingkan penjajah di daerah Ende. Selama pengasingannya, Bung Karno terus berpikir untuk kemerdekaan Indonesia. Di suatu waktu, ia berkontemplasi dan bermenung diri dipayungi pohon sukun (Artocarpus altilis) bercabang lima. Konon, jumlah cabang lima ini telah menginspirasi Bung Karno merumuskan Pancasila.
Pancasila sebagaimana pernah diketahui mencerminkan nilai kebangsaan dan kesatuan. Hal ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan masa depan bangsa ini. Nilai kebersamaan dan toleransi harus dipupuk terus menerus agar bunga kedamaian selalu bersemi. Apalagi, saat ini, gesekan-gesekan antargolongan, resistensi sosial, bahkan sikap intoleransi telah merebak dimana-mana. Kasus lama kembali mengemuka; Mesuji, kekerasan di Bima NTB, pembakan misterius di Aceh, serta sederet kasus melukai nurani manusia.
Di Ende terasa beda. Masyarakat antarumat agama saling menghormati dan menghargai. Saat perayaan hari raya dan besar keagamaan tiba, antarumat beragama saling menjaga keamanan dan ketertiban secara bersama-sama. Terdapat beragam suku dan etnis di Ende, yakni Flores, Jawa, China, Bugis, menyatu-padu dalam kehidupan bermasyarakat. Hanya saja, sebagian besar kultur Indonesia timur termasuk Pulau Flores menggunakan dialek keras dan kencang. Nada tinggi dan suara cepat selalu terekam di daun telinga penulis. “Disini watak (orang)nya keras, tapi hatinya baik,” ujar Peta Amatus, Kepala Sekolah SMA 1 Ende.
Makan bersama menjadi sebuah kebiasaan dalam keluarga. Sanak famili bapa, mama, anak-anak mengudap makanan secara bersama-sama. Alwi, salah satu peserta Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) punya cerita. Pria berperawakan kurus asal Banyumas ini, kini, hidup di rumah warga setempat. Saat ia belum tiba di rumah, seluruh anggota keluarga rela menunggu dan menunda makan siangnya. “Sore (jam 6) itu, saya baru pulang. Semua anggota keluarga belum makan, nungguin saya datang,” jelasnya sembari menghela nafas.
Menurut Kepala sekolah SD Inpres, Hendrik Nala mengatakan, orang Ende meyakini bahwa kehadiran tamu di rumah mereka sebuah keberkahan tersendiri. Sehari semalam di rumah sederhananya, penulis mengamati jalinan antarkeluarga dan tetangga masih kuat. Kehadiran penulis dan seorang teman diterima dengan pintu terbuka. Dalam hati kecil Hendrik juga merasakan hal yang sama bila mengingat anak sulungnya. Maklum, sang anak sudah bertahun-tahun merantau mencari ilmu di daerah seberang, tepatnya kampus Undana Kupang. “Ia sudah diwisuda November kemarin, bulan ini baru rencana pulang,” ceritanya kepada penulis.
Selain adaptasi sosial dan kemasyarakatan, mengenal kondisi alam dan lingkungan tak kalah pentingnya. Secara demografis, Ende termasuk daerah bergunung batu. Sebagian besar kondisi alam di kabupaten ini adalah pegunungan. Terlihat panorama gunung rapi berjajar. Dari kejauhan, gunung-gunung tampak hijau diselimuti pohon-pohon besar. Pemandangan sungai berbatu dan gemercik air, menyiratkan suasana alam nan asri juga tenang. Rongga–rongga hidung terasa lepas saat menghirup udara sejuk khas udara pegunungan. Maklum, di daerah ini alam begitu terpelihara secara baik. Sebab, warga masih selalu merawat dan meruwat banyak hutan adatnya. “Kalau terdengar suara mesin (pemotong pohon) saja, warga langsung datang,” kata Vincent, seorang warga dari daerah ini.
Berpelesiran, belajar budaya serta adat istiadat, memahami sistem sosial kemasyarakatan, salah satu cara bagaimana mengenal Indonesia secara lebih dekat. Memahami khazanah bangsa setidaknya menambah wawasan kebangsaan dan rasa nasionalisme. Pemahanan lintas budaya (Cross cultural understanding) terasa hambar bila sekadar melalui teks tanpa memahami konteks dengan langsung berbaru secara nyata. Karena selalu ada makna dan cerita di secuil peristiwa. Akhirnya, meneropong wajah Indonesia merupakan hal berharga, salah satunya melalui Ende, NTT ini.
Penulis adalah Alumni FKIP UMK dan kini menjadi Peserta Program DIKTI Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T) di Ende, NTT.


Comments
RSS feed for comments to this post.