Menu

Artikel

Jalur Kereta Api Semarang-Rembang Dihidupkan Ekonomi Panturan Berkembang

UMK- Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Ir Djoko Setijowarno, MT memperkirakan realisasi rencana pengoperasian kembali kereta api (KA) jalur Semarang-Rembang ada 2020. Hal itu diungkapkan Djoko pada paparan materi seminar bertema “Membangun Sistem Transportasi Modern: Jalur Kereta Api Semarang-Rembang sebagai Sarana Pelayanan Publik dan Penggerak Ekonomi di Jawa Tengah” pada Sabtu (06/08) di Progdi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Muria Kudus (UMK).
Pengoperasian kembali jalur kereta api Semarang-Rembang, lanjut peneliti transportasi dari Unika Soegijapranata ini, masuk dalam desain masterplan dokumen perkeretaapian Indonesia 2005-2030. Dalam dokumen tersebut, pemerintah melalui cetak biru Departemen Perhubungan pada 2003 berencana meningkatkan kapasitas dan pemanfaatan kembali jaringan rel yang tidak dioperasikan, salah satunya kawasan pantai utara (pantura) Jateng.

“Sebagai uji coba, pemerintah sedang melakukan pengoperasian kembali kereta api jalur Kedungjati Grobogan- Tuntang- Ambarawa Kabupaten Semarang,” katanya.
Menurut Djoko, pihak swasta atau pemerintah daerah dapat ikut berperan membangun jalur perkeretaapian. Hal ini sebagaimana diatur dalam Undang-undang No.23/2007.
“Jika sebelumnya usaha perkeretaapian dimonopoli PT. KAI (Kereta Api Indonesia), kini pihak swasta atau pemerintah daerah dapat ambil bagian. Cara kerjanya hampir serupa dengan tol,” ujarnya.
Jalur kereta api, menurut Djoko, menjadi solusi atas permasalahan kompleks akibat model transportasi jalan raya. Kereta api dinilai lebih efisien dan hemat biaya dari pada transportasi darat melalui jalan raya.
“Jadi masalah kemacetan, kecelakaan lalu lintas, besar anggaran subsidi BBM, pembangunan jalan tol, perawatan biaya jalan raya, dapat diatasi jika jaringan kereta api kembali dihidupkan,” ujarnya.
Kesadaran akan hal tersebut, menurut Djoko, menjadikan negara-negara maju di eropa serta Cina mengembangkan transportasi jalur kereta api.

Dampak Ekonomi
Pengoperasian kembali jalur kereta api memiliki dampak positif dalam pengembangan ekonomi. Berdasar studi yang pernah dilakukan, terbukti terdapat korelasi kuat antara pelayanan infrastruktur transportasi dan tingkat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.
Dalam makalahnya, Djoko menyebutkan, jalur KA Semarang-Rembang yang dibangun pada rentang 1883-1900 dimanfaatkan untuk mengangkut komoditas ekspor produk pertanian dan kehutanan, terutama gula, kapuk dan kayu jati.
“Jika jaringan kereta api di wilayah Jawa telah terhubung, pasti akan terjadi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Kesadaran akan manfaat transportasi jalur kereta api ini, menurut Djoko, disadari oleh Wali Kota Solo, Joko Widodo (Jokowi). Pada awal 2011 ini, Jokowi telah mengembangkan railbus dengan nama Batara Kresna. “Karena transportasinya hidup, kotanya juga menjadi bagus,” ujarnya. (Farih/Hoery-Portal).

Perpustakaan UMK Menantangmu

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Pengunjung

00039864
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
564
5719
6283
0
39864
0
39864

IP: 54.234.0.85
Jam Server: 2014-11-24 03:38:02

Kami memiliki 32 tamu online

Lihat Universitas Muria Kudus di peta yang lebih besar

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Agroteknologi
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

Kemahasiswaan

Alumni SI
Pena Kampus
KSR PMI

Scan this QR Code!
Go to top