|
Oleh Zamhuri
Salah satu problem yang memprihatinkan dunia pendidikan saat ini adalah menurunnya kualitas perilaku peserta didik (siswa & mahasiswa). Sebagian dari mereka berperilaku kurang mencerminkan diri sebagai seorang yang sedang menyandang status pelajar/mahasiswa. Seperti berperilaku amoral, anarkis, asosial dan bentuk anomali perilaku lainnya. Perilaku tersebut sangat kontra produktif dengan watak dunia pendidikan. Hasil belajar tidak hanya pengetahuan dan teknologi, tetapi jauh lebih utama adalah terbentuknya watak dan karakter yang baik dan unggul. Banyak pihak berharap peran aktif lembaga pendidikan dalam pembentukan karakter bangsa (nation caracter). Karena karakter bangsa merupakan modal utama mempertahankan eksistensi dan membangun bangsa ke depan. Tanpa karakter bangsa sulit rasanya mendisain arah perkembangan bangsa. Karena itu, sangat tepat jika Kementrian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengangkat tema ”Pendidikan Karakter Untuk Membangun Keberadaban Bangsa” sebagai tema Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2010. Lembaga pendidikan harus mulai memformat dalam mengembangkan karakter peserta didik yang sifatnya kualitatif. Dengan begitu, dunia pendidikan tidak hanya berperan sebagai agen transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga berperan sebagai agen untuk transfer sistem nilai. Menurut Profesor Muhammad Nuh (Mendiknas), untuk menerapkan pendidikan karakter, ada empat langkah yang harus ditempuh yaitu. Pertama, harus ada perubahan paradigma di dalam proses dan sistem pendidikan atau belajar-mengajar. Kedua, peran staf pengajar (guru) yang berfungsi sebagai role models atau keteladanan (uswatun khasanah) harus ditonjolkan. Ketiga, membangun kultur di dalam tiap lembaga pendidikan yang bersumber dari budaya yang ada sebagai media yang kondusif untuk membentuk karakter tersebut. Keempat, perlunya dukungan terhadap aturan atau regulasi dari sistem pendidikan.
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang peserta didik akan menjadi cerdas emosi dan spiritualnya. Mengingat pentingnya karakter bangsa dan perlunya pembekalan kepada para peserta didik, diperlukan pemikiran ulang tentang falsafah manajemen pendidikan nasional. Sehingga lembaga pendidikan lebih mengedepankan budaya dan sistem nilai bukan mempertontonkan aktivitasnya pada transaksi business to business. Morali Pendidikan Pendidikan berarti upaya membangun manusia. Pendidikan adalah upaya terorganisasi untuk membangun peradaban bangsa. Di balik keberhasilan ekonomi dan teknologi, tidak bisa dilepaskan akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan agar kehidupan bisa dijalani secara normal, produktif, dan bermakna. Namun banyak dari kita yang merasa gagal menjaga nilai kemanusiaannya setelah sukses di bidang materi, yang oleh John Naisbit diistilahkan High-Tech, Low-Touch. Yaitu gaya hidup yang selalu mengejar sukses materi, tetapi tidak disertai dengan pemaknaan hidup yang dalam. Akibatnya, tidak sedikit orang menyerahkan harga dirinya pada jabatan dan materi, tetapi kepribadiannya keropos. Seseorang merasa dirinya sukses dan berharga bukan karena kualitas pribadinya, tetapi karena jabatan dan kekayaan, meski diraih dengan cara tidak terhormat. Pribadi semacam ini oleh Erich Fromm disebut having oriented, bukan being oriented, yaitu pribadi yang obsesif untuk selalu mengejar harta dan status, tetapi tidak peduli pada pengembangan kualitas moral. Ketika pendidikan tidak lagi menempatkan prinsip-prinsip moralitas, maka yang dihasilkan adalah manusia yang selalu mengejar materi untuk memenuhi tuntutan physical happiness (kebahagiaan materi) yang sebetulnya bersifat sesaat dan berpotensi membunuh akal sehat dan nurani. Pendidikan yang sehat adalah yang secara sadar membantu peserta didik bisa merasakan, menghayati, dan menghargai makna hidup dari yang bersifat fisikal sampai moral, estetikal, dan spiritual. Kalau kita perhatikan selama ini, pendidikan sangat kurang membantu pertumbuhan spiritualitas. Seiring munculnya kesadaran dan tuntutan moral dalam kehidupan, dunia pendidikan juga perlu diberikan pendidikan yang melibatkan emosi dan nurani dalam proses pembelajaran. Upaya ini untuk menumbuhkan kecerdasan emosi dan spiritual. Istilah yang dipopulerkan oleh Danah Zohar, Ian Marshall, dan Daniel Golleman. Mutilasi Lembaga pendidikan memikul tanggung jawab dan beban sosial yang amat besar untuk mewujudkan nilai filosofi dunia pendidikan. Karena demikian besarnya tanggun jawab lembaga pendidikan, maka penyelenggaraan pendidikan bukan semata-mata ”monopoli” lembaga pendidikan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama antar komponen anggota masyarakat yang peduli dengan dunia pendidikan. Sayangnya, proses pendidikan saat ini telah dimutilasi. Pemaknaan proses pendidikan berhenti dan hanya dibebankan pada lembaga pendidikan. Sehingga proses pendidikan tidak membentuk simbiosis dengan ”proses pendidikan” di luar lembaga pendidikan. Karena dimutilasi, proses yang terjadi di luar lembaga pendidikan tidak memperhatikan dan menjauh dari nilai-nilai filosofi pendidikan. Kehidupan di lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan masyarakat tidak dimaknai sebagai bagian ”tubuh” pendidikan. Padahal, proses pendidikan tidak hanya terjadi di lingkungan lembaga pendidikan, tetapi meliputi semua aktivitas kehidupan peserta didik dimanapun berada. Apalagi proses pendidikan yang bermuara pada pembentukan karakter. Karena itu, perilaku anomali yang dilakukan oleh peserta didik tidak semat-mata karena kegagalan sekolah dalam membentuk karakter. Tetapi juga karena tidak adanya proses sustainability antar ”organ” pendidikan. Karena itu, perlu langkah nyata pentingnya mendisain kembali pendidikan yang menghidupkan antar ”organ” pendidikan, sehingga pembangunan karakter bisa tercapai dan tidak termutilasi.
Zamhuri, Manajer Yayasan Pembina Universitas Muria Kudus, tinggal di Kudus.
|