|
UMK - Kreatifitas anak muda tak pernah padam kalau melihat aktifitas Putro Dwi Purnomo dkk. Mahasiswa jurusan Otomotif Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus (UMK) ini sedang sibuk mengutak-atik mobil mini, atau orang sering menyebut gokart. Namun, saat itu gokart buatan Putro belum bisa dicoba, karena keempat rodanya masih terpisah.
Bersama keempat temannya, M. Ilwan, Khoirul Anam, Kharis Abdullah, Aan Budiyanto, bermaksud membuat karya untuk memenuhi Tugas Akhir (TA) dari program D3. Lalu, bagaimana proses kreasi mereka?
Benda logam seperti besi, geer, ring, palu menjadi teman keseharian Putro dan mahasiswa mesin lainnya. Di tangan-tangan mereka, logam itu disulap berubah benda kreasi unik dan berdaya guna. Seperti karya buatan Putro dan timnya, bahan baku untuk pembuatan mobil mini sebagian berasal dari barang bekas diperoleh dari pasar loak, kecuali mesin dan ban.
Sambungan plat besi setiap sudut pun tampak rajin dan teratur. Penyambungan besi-besi itu menjadi kerangka memakai sistem pengelasan api. Panjang lebar bentuk sekitar 2 x 1 meter. Putro mengatakan, dirinya belum pernah melihat wujud gokart yang asli. Ia hanya mengambil gambar dari internet dan mendesain dengan momodifikasi sendiri.
Mesin Sedangkan mesin berfungsi memutar roda pun memakai pompa air atau kompresor bertenaga 5,5 PK atau 160 cc. Awal mula, tim ini berniat menggunakan mesin motor sebagai tenaga penggerak, tapi alasan inovasi mereka memilih media lain.
Mochamad Ilwan mengatakan, gokart ini tak secepat layaknya motor bebek. “Akselerasi motor umumnya dari 8 hingga 10 PK, kalau ini cuma 5, 5 PK saja,” jelas Ilwan sambil menunjukkan buatannya kepada Portal UMK (20/1).
Perputaran roda gokart ini dirancang sejenis kendaraan metic. Artinya, motor ini berjalan tanpa adanya kopling atau roda gigi. Fungsi yang didesain untuk memudahkan pengguna saat moda ini dikendarai.
Penggerak roda (kompresor air) pun selalu berputar bila mesin dihidupkan. Namun, Putro tak kehabisan akal cerdasnya. Pria angkatan 2006 ini memanfaatkan sentri fugal, geer motor yang berfungsi menarik dan menghentikan ke mesin. Ilwan menambahkan, “Saat gas ditarik, motor baru bisa jalan,” katanya. Rencananya, bulan Februari mendatang karya itu sudah selesai dikerjakan. Setiap anggota bertanggung jawab sesuai bidang disepakati, mesin, rangka, dan stir. Seperti Putro dan Ilwan, secara spesifikasi keduanya pada menangani bagian rangka dan mesin.
Sebelum diuji-cobakan di lapangan, produk mahasiswa Teknik UMK ini akan disempurnakan dengan fiber penutup bodi. Kalau diperkirakan, pembuatan ini gokart menghabiskan biaya sekitar 5 juta rupiah. “Itu dibagi orang lima,” jelas Ilwan saat menghakhiri pembicaraan. (Ulin/Portal UMK)

|