|
UMK-Semburat pagi menapakkan diri hangatkan langkah 41 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK), untuk memecahkan teka-teki rahasia garis tangan manusia. Meski harus menaiki anak-anak tangga yang tertata rapi di depan mata, tak menyurutkan langkah mereka saat memasuki gedung Rektorat UMK untuk mencapai ruang pelatihan yang berada di lantai tiga gedung itu belum lama ini.
Satu persatu dari mereka disambut dengan semilir AC, kala memasuki ruangan dimana acara yang mereka sukai selama ini dilaksanakan. Terlihat rapi, dengan kursi-kursi berjajar menghadap ke timur kearah white board. Setelah regrestasi, mereka pun memilih tempat duduk yang mereka anggap nyaman untuk menerima rahasia tanda-tanda garis tangan yang akan diberikan praktisi.
Tak lama kemudian Agus Sisnowo M.Si, ketua Kajian Pikologi Terapan (KPT) Fakultas Psikologi UMK, membuka acara sekaligus memperkenalkan praktisi ahli bidang palmistry bernama Toni Joe itu dihadapan 41 peserta pelatihan. Kurang lebih lima belas menit beranjak dari pukul Sembilan acara pun diambil alih oleh sang ahli yang akrab dipangging dengan sebutan Toni tersebut, Toni pun memperkenalkan tiga jenis garis pokok yang dimiliki setiap orang. “Pertama garis kehidupan, kemudian garis karir, dan terakhir garis perasaan,†ungkap Toni.
Serentak 41 peserta memandangi telapak tangan mereka masing-masing, dan nampak serius melihat garis tangan yang menggores ditelapak tangan mereka oleh sang pencipta. Suasana pun berubah ramai, Toni, pria berambut panjang itu membacakan garis telapak tangan salah satu peserta menegenai garis perasaan.
Pelatihan Palmistry tersebut digelar dalam lima kali pertemuan ditiap minggunya, yakni, setiap hari Rabu. Pada pertemuan ketiga (25/11/2009), peserta sudah bisa membaca garis tangan secara umum, penambahan materi pada pertemuan ini hanya pada tanda gunungan berjumlah sembilan yang ada pada garis tangan setiap orang.
Banyak dari peserta mengikuti acara ini dengan tujuan untuk membantu diri sendiri, dan juga orang lain, sementara sebagian lainnya mengikuti acara sekedar untuk menambah ilmu, dan pengalaman baru. “Teori-teori yang saya dapat di Psikologi bisa saya explore, dan aplikatifkan,†Ujar Hasan salah satu peserta, saat ditanya harapan setelah mengikuti pelatihan palmistry.
Dalam pelaksaan pelatihan palmistry ini Agus mengharapkan mahasiswa memiliki kompetensi pelengkap berupa pelatihan-pelatihan (misal palmistry, dan graphology) untuk menunjang kompetensi dasar yang diajarkan diperkuliahan selama ini. “Membekali mahasiswa agar bisa diterima dalam masyarakat dan memiliki nilai lebih sesuai yang diharapkan masyarakat,†Harap Agus Sisnowo, M.Si seusai acara.
Bagaimanapun juga Palmistry selalu diminati mahasiswa psikologi UMK, dari masa kemasa, dengan bebagai alasan yang ada. Nyatanya sampai sekarang Palmistry masih banyak yang mengagumi seni untuk menjadi seorang palm reader ini. (Kholidin, Portal)
|
Comments
Hai,Sofyan. Ada berita duka di kami, pak Agus pada hari Selasa,9 Feb mas agus meninggal karena sakit.Untuk pelatihan palmistry akan kami jadwalkan untuk pelatihan di luar mhs kami.
Tks
RSS feed for comments to this post.