Pondok Gondrong di Kudus

Email Cetak

Barangkali tidak salah jika ada stigmatisasi bahwa berambut gondrong itu identik dengan orang bengal, urakan, bahkan preman. Namun, tidak selamanya tuduhan seperti itu benar. Karena bisa jadi, orang yang berambut gondrong itu lebih sopan, lebih alim dari orang yang kelihatannya alim sekalipun.
Pondok Pesantren Rahmatul Ummah (PPRU) Es-Salafy Jekulo Kidul, kabupaten Kudus, bisa dijadikan tamsil untuk meng-counter stigma miring yang dilayangkan atas orang-orang yang berambut gondrong tersebut. Pasalnya, sebagian besar santri, bahkan pengasuh (baca: Kyai)-nya pun tak jarang berambut gondrong.

Sehingga, tak ayal, pesantren yang bangunannya bak hotel yang berdiri megah di Jl. Pandean 230 Jekulo Kudus, itu lebih dikenal dengan sebutan Pondok Gondrong daripada nama aslinya. Anda pun jika bertandang ke sana- akan lebih mudah jika bertanya dengan menyebut nama pondok gondrong daripada pondok pesantren Rahmatul Ummah.

Memasuki pondok gondrong, anda akan terkesiap, karena takjub melihat para penghuninya. Sebab, bukan hanya kesopanan dan keramahan orang-orang berambut panjang bak pendekar kerajaan Majapahit yang akan ditemui, tetapi bahasa krama yang digunakannya sehari-hari, pun akan membuat bagi orang terperangah jika tidak terbiasa dan tidak bisa basa krama.

Yang perlu dipahami, bahwa fenomena gondrongisasi yang menjadi ciri khas pesantren yang didirikan KH. Mahmudi Amam sejak Januari 1989 M, ini bukanlah biar kelihatan gagah dan sangar. Tetapi, itu berdasarkan falsafah dari sang Kyai yang menjadi pegangan setiap penghuni pondok. Bahwa gondrong itu berarti keinginan yang hendak diwujudkan dalam menghadapi kehidupan dengan penuh semangat, keuletan, serta memiliki jangkauan nalar yang jauh ke depan, bak rambut yang kian memanjang.

Di samping falsafah rambut gondrong, Kyai juga menekankan dua falsafah lain, yaitu falsafah AKIK dan DUIT. Dua falsafah sebagai pegangan hidup di dunia dan akhirat. AKIK disini bukan berarti cincin yang melingkar di jari-jemari. Melainkan kepanjangan dari Aktif, Kreatif, Imajinatif, dan Komunikatif. Sedang DUIT bukanlah Dollar (baca: uang) yang bisa digunakan untuk membeli kenikmatan dunia, bahkan kehormatan (harga diri) sekalipun. Akan tetapi, DUIT berarti Doa, Usaha, Iman dan Taqwa.

Inilah hebatnya pondok gondrong, yang tidak melulu mementingkan akhirat (ibadah) dan melalaikan kenikmatan dunia. Tetapi bahwa falsafah fi al dun-ya hasanah wa fil al-akhirat hasanah, juga ditekankan. Sederhanya, adalah bagaimana agar kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, itu bisa diraih.

Dengan penjelasan diatas, maka sudah seharusnya lah orang-orang yang beranggapan bahwa gondrong itu identik dengan orang bengal, urakan, bahkan preman, harus merevisi ulang pendapatnya tersebut. Karena kenyataannya, tidak selamanya gondrong itu personifikasi individu dari orang-orang bengal. Dan Pondok Gondrong dengan kesopanan, keramahan, dan kesantunan para penghuninya, cukup menjadi bukti bahwa banyak juga orang berambut gondrong yang baik.

Wallahu a'lam. [hoery/rosidi-Portal]

Read : 2618 times

Comments  

 
-1 #1 2012-10-05 20:59
heh aku njaluk video raziane kiyai mahmudi re.. ndue tah gak>>?
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Agroteknologi
Teknik
Psikologi

 

Pasca Sarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

 

Links:

 

Fasilitas

UMK Repository

Library Gateway

E learning

Info Muria

Blog Staff

Muria Studies

Jurnal

Jurnal Internasional

Portal Ketrampilan Wajib

 

 

Barcode:

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria

Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

 

 

 

 

QR Code

Kemahasiswan

Portal Akademik

Info Kemahasiswaan

Alumni SI

Pena Kampus

Hubungi Kami

Universitas Muria Kudus

Gondangmanis PO.BOX 53

Bae 59324 Kudus

Jawa Tengah - Indonesia

 

Telp: 0291-438229

Fax: 0291-437198

Email: muria@umk.ac.id