Menu

Kearifan Lokal dan Pancasila Sebagai Benteng Ketahanan Nasional

UMK – Pancasila sebagai ideologi bangsa, sudah selayaknya menjadi problem solver dari berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia, termasuk moralitas. Topik itulah yang menjadi bahasan dalam seminar regional berjudul “Pancasila Sebagai Solusi Menghadapi Moralitas Bangsa” yang merupakan rangkaian kegiatan Faculty of Law for Social Service. Seminar tersebut diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitass Muria Kudus (UMK) pada kamis (13/6) bertempat di ruang seminar Gedung Induk lantai IV UMK.
Semiar regional tersebut menghadirkan dua narasumber yakni Dr. Suparnyo SH MS dari UMK dan Prof. Dr. Iriyanto Widisuseno dari Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang.
Dalam paparannya, Suparnyo menyoroti pancasila yang merupakan salah satu dari empat pilar kebangsaan sebagai konsultante (kesepakatan) dari founding father Indonesia. Dari pancasila itulah tersirat empat tujuan negara yang tertulis dalam pembukaan Undang-undang Dasar tahun 1945.
Menurut Suparnyo, persoalan moralitas yang dihadapi bangsa pun harus mampu ditanggulangi melalui pancasila. “Pancasila memiliki butir-butir yang dapat diimplementasikan untuk menanggulangi sekaligus mencapai tujuan negara,” tutur wakil Rektor I UMK ini. Suparnyo menekankan pada generasi muda sebagai penerus bangsa agar senantiasa mengamalkan nilai-nilai Pancasila.
Berbeda dengan Suparnyo, Prof. Dr Iriyanto membahas mengenai ketahanan nasional berbasis multikulturalisme. Ketahanan nasional menurut Iriyanto, bukan lagi mengenai alutista ataupun berbentuk hard, ketahanan nasional sekarang ini juga mengenai sosial-budaya seperti kearifan lokal atau kekayaan budaya.

Indonesia merupakan negara yang berwajah multikultural karena terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Meski demikian, Indonesia dipersatukan oleh kesamaan nasib yang merupakan dasar pembentukan kebangsaannya. “Jadi, basis pertahanan nasional Indonesia adalah pluralisme tersebut,”.
Menurut Iriyanto, Indonesia perlu mengembangkan new traditional norm (norma-norma tradisi baru) untuk menjaga keeksistensian Bangsa. Syaratnya yakni Indonesia harus menjadi bangsa yang kritis, evaluatif, dan konstruktif. “Hal tersebut bisa dibangun melalui budaya akademik yang toleran dan inklusif sebagai dasar pengembangan pendidikan berwawasan multikulturalisme ke-Indonesia-an,”. Iriyanto menghimbau agar Perguruan Tinggi dalam menyusun mapping kekuatan kearifan lokal sebagai basis ketahanan nasional agar berfungsi sebagai problem solver.
“Untuk mencapainya, perguruan tinggi harus memiliki kwalitas, social responsibility, dan global citizenship. Jadi menciptakan lulusan yang berkwalitas global.” Pungkas Irianto menutup paparannya.
Pengumuman Pemenang
Dalam seminar tersebut, juga diumumkan juara lomba debat tingkat mahasiswa UMK, dan lomba fotografi tingkat umum yang merupakan rangkaian acara Faculty of Law for Social Service. Lomba debat tersebut dimenangkan oleh tim Jurnalistik UMK dengan raihan poin 517, sedangkan lomba fotografi dimenangkan oleh Maria Ulfa (mahasiswa UMK program studi PBI) dengan total skor 713. (Nabila-Portal)

Info Kopertis Wilayah VI

Info Dikti

Tajug

Membangun Karakter Hakim Progresif dan Bermoral

Dr.  Sukresno, SH.,M.Hum

Prinsip utama sistem hukum Eropa Kontinental yaitu hukum memperoleh kekuatan mengikat, karena diwujudkan dalam peraturan-peraturan yang terbentuk Undang-Undang (UU) dan tersusun secara sistematik dalam kodifikasi atau kompilasi tertentu. Prinsip dasar ini dianut, mengingat nilai utama yang merupakan tujuan hukum adalah kepastian hukum, termasuk oleh hakim-hakim di Indonesia.

Namun, di Indonesia, hukum acapkali dimaknai dengan kalimat dalam peraturan yang hanya semacam eksemplar saja, sedang yang hendak dijangkau adalah suatu makna yang lebih dalam lagi, katakanlah keadilan.


Membangun Marwah UMK di Pentas Global

Berpartisipasi dalam berbagai kegiatan antarbangsa (internasional) bagi institusi perguruan tinggi, menjadi keniscaryaan di era global ini. Hal itu berlaku juga bagi Universitas Muria Kudus (UMK), perguruan tinggi swasta terbesar di Pantura Timur Jawa Tengah.

Terkait kesadaran global ini, sebenarnya ada argumentasi religius yang cukup populer, khususnya bagi umat Islam, yakni, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Di luar itu,  pelaksanaan ibadah haji secara tidak langsung menjadi pemantik silaturahmi dan kegiatan antarbangsa.


Maksimalisasi UKM dalam Peningkatan Kapasitas Mahasiswa

Oleh Drs. Hendy Hendro HS, M.Si.

Yakin dan sadar, bahwa kegiatan kemahasiswaan adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari kegiatan akademik sehari-hari, baik yang bersifat ko kurikuler maupun ekstra kurikuler.

Kegiatan ko kurikuler sangat menunjang kegiatan keilmuan dan penalaran, yang pada gilirannya diharapkan mahasiswa bisa menerapkan ilmu (pengetahuan) yang didapat di bangku kuliah dalam kehidupan nyata.

Polling

Menurut Anda tampilan apa saja yang perlu dibenahi dari Website UMK ?

Pengunjung

00682966
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Total
1315
8348
14352
635502
113887
111423
682966

IP: 54.204.162.36
Jam Server: 2015-04-28 05:07:58

Kami memiliki 41 tamu online

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Pertanian
Teknik
Psikologi

Pascasarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

Fasilitas

Webmail
Portal Akademik
Repository UMK
Perpustakaan
E-learning
Blog Staff
Jurnal
Jurnal Internasional
Portal Ketrampilan Wajib
Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria
Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

Kemahasiswaan

Alumni SI
Pena Kampus
KSR PMI
Menwa Gondho Wingit

Scan this QR Code!
Go to top