Image1 Image2 Image3 Image4 Image5 Image6
Loading

Sumpah Pemuda dan Problem Pengangguran

Email Cetak

Oleh Zamhuri
Dalam bulan Oktober, ada momen yang sangat spesial bagi para pemuda, tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari sumpah pemuda. Dalam epos perjalanan bangsa, momentum sumpah pemuda dijadikan sebagai salah satu peristiwa penting proses perjuangan bangsa Indonesia dalam menggapai kemerdekaan. Peran para pemuda Indonesia tercatat dengan tinta emas, karena dengan sumpah pemuda tersebut, nilai, semangat, dan jiwa nasionalisme para pemuda semakin berkobar.
Perasaan senasib sepenanggungan yang dirasakan oleh pemuda menjadi motor inspirasi dalam mempersatukan para pemuda Indonesia. Di bawah kolonialisme, para pemuda bertekad dan bermimpi meraih kemerdekaan. Akankan para pemuda Indonesia saat ini memahami dan menghayati arti penting sumpah pemuda? Bagaimana memaknai sumpah pemuda dalam menghadapi problem bangsa, khususnya problem yang dihadapi oleh para pemuda itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini penting dikemukakan mengingat peran aktif para pemuda sangat menentukan arah perjalanan bangsa.

Ada tema menarik yang disampaikan oleh Kementrian pemuda dan Olahraga (Kemenpora) pada peringatan sumpah pemuda pada tahun ini yaitu "Pemuda Indonesia yang Berjiwa Wirausaha, Berdaya Saing dan Peduli Sesama".
Pemuda berjiwa wirausaha, berdaya saing dan peduli sesama adalah modal penting dalam membangun generasi muda bangsa. Di tengah masih tingginya tantangan pengangguran, jiwa wirausaha sangat relevan untuk ditumbuhkembangkan dan digelorakan oleh para pemuda, terutama para sarjana. Hal ini karena tingkat pengangguran masih menjadi problem para sarjana.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Februari 2011, 8,12 juta (6,8 persen) angkatan kerja kita adalah pengangguran terbuka ─sama sekali tidak memiliki pekerjaan─ dan sekitar 600 ribu (7,6 persen) orang diantaranya para sarjana. Kondisi ini sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan Agustus 2010, penganggur sarjana mencapai sekitar 700 ribu orang (8,5 persen). Karena itu, menjadi penting bagi para sarjana, menebalkan mentalnya menjadi wirausaha sejati. Berusaha mengatasi problem kehidupan tanpa harus bergantung atau menjadi deretan pengantri pencari pekerjaan.
Dalam spirit sumpah pemuda, menggelorakan mental wira usaha menjadi sangat urgen, karena hal tersebut merupakan tantangan nyata para pemuda (mahasiswa dan sarjana) saat ini. Para sarjana harus memiliki spirit mental dan membulatkan tekad untuk tidak lagi menjadi beban dan problem pengangguran.    
Sementara pemuda berdaya saing adalah sosok pemuda yang memiliki kompetensi sebagai bekal untuk mengaplikasikan kapasitas dan kemampuannya dalam menghadapi persaingan hidup.  Tanpa memiliki daya saing, para pemuda akan tersisih, bahkan mungkin akan ditinggal oleh perkembangan zaman, yang memiliki tingkat akselerasi tinggi. Tanpa daya saing, para pemuda akan gagap dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), yang akhirnya hanya akan menjadi generasi yang tertinggal dan terbelakang.
Sementara tema pemuda peduli sesama sangat penting untuk menggalang solidaritas dan kesetiakawanan sosial. Di tengah makin menipisnya rasa persatuan, solidaritas, dan kesetiakawanan sosial, dengan makna sumpah pemuda para sarjana hendakanya memiliki kepedulian untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut. Tanpa persatuan, solidaritas, dan kesetiakawanan sosial, mustahil problem bangsa, terutama problem kepemudaaan akan dapat diatasi.
Kita patut prihatin dengan semakin tereduksinya jiwa persatuan, solidaritas dan kesetiakawanan di masyarakat, terutama di kalangan pemuda. Padahal pemuda adalah tulang punggung dan pemegang estafet kepemimpinan bangsa. Apa yang akan terjadi bila tulang punggung dan calon pemimpin sudah menipis modal utamanya di masa mendatang.  
Dengan memiliki mental wirausaha para pemuda akan mampu mengatasi problem pengangguran yang menjadi masalah bangsa. Menurut Kepala UNFPA Jose Feraris, jumlah orang muda berusai 10-24 tahun mencapai 64 juta atau 27 persen dari populasi pendudukan Indonesia. (Kompas, 28/10). Jumlah ini tentu sangat besar, jika mental wirausaha ditanamkan sejak usia  muda, maka ketergantungan para pemuda pada orang lain menjadi berkurang.
Demikian juga dengan kemampuan daya saing para pemuda, maka problem kekinian mengenai tingkat persaingan akan mudah dipatahkan jika para pemudanya memiliki daya saing tinggi.
Agaknya problem pengangguran yang saat ini menjadi masalah krusial bagi masa depan pemuda perlu menjadi perhatian para pemuda. Tanpa kepedulian dan peran aktif pemuda, maka problem pengganguran akan menjadi “bom waktu” yang bersifat “high ekplosif” yang bisa mengancam dan meruntuhkan masa depan bangsa.
Dengan momentum sumpah pemuda, saatnya para pemuda memiliki kepedulian dan berperan aktif dalam ikut mengatasi problemnya sendiri. Para pemuda Indonesia harus berikrar menyatupadukan persepsi dalam rangka mengatasi problem pengangguangan di kalangan pemuda itu sendiri. Dirgahayu Sumpah Pemuda.
Zamhuri, Humas Universitas Muria Kudus, Pimpinan Redaksi Website UMK.


Read : 558 times

Comments  

 
0 #4 2011-11-11 09:51
Yth. mas pendekar88.

Pertama, kami ucapkan terima kasih atas atensi dan komentarnya.
Kedua, menurut saya, bermental wirausaha tidak harus diterjemahkan dengan membuka sebuah perusahaan. Mental adalah ranah dari kejiwaan yang menjadi penguat dari ide atau gagasan. Tanpa memiliki mental, etos kita menjadi lemah. bermental wirausaha berarti memiliki semangat, pola pikir, dan karakter enterpreneur akan membuat perbedaan, perubahan, dan pertumbuhan positif dalam profesi dan pekerjaan di luar bidang dunia bisnis. Jiwa enterpreneur akan memiliki daya kreatif dan inovatif, mencari peluang dan berani mengambl risiko.
Dengan sikap kreatif, mandiri, ulet, dan didukung dengan karakter yang baik, maka para pemuda akan mampu mengatasi problem dirinya sendiri. Bahkan bisa memberikan kontribusi dalam ikut memecahkan problem kehidupan yang dihadapai oleh masyarakat.
Selamat berkarya.


Zamhuri
, kontak person 08156549630
Quote
 
 
0 #3 2011-11-11 09:41
Yth. Mas pendekar tanpa bendu yang budiman.
1. Kami mengucakan terima kasih atas atensi dan apresiasi atas tulisan saya yang berjudul "Sumpah Pemuda dan Problem Pengangguran".
2. Mungkin kita berbeda pendapat tentang istilah muda dan tua. Menurut saya "tua" itu adalah orang yang suka berlama-lama "istirahat", kalau sudah "istirahat" suka susah "bangunnya".
3. Mohon maaf jika tulisan tersebut terkesan sombong.
4. Kami tunggu tulisan mas "pendekar tanpa bentu", insya Allah, dari redaksi akan memberi apresiasi, meskipun tidak besar. Secara pribadi saya akan mengapresiasi jika tulisan mas "pendekar tanpa bentu" bisa masuk di media masa umum. Selamat berkarya.

Zamhuri
, kontak person 08156549630
Quote
 
 
0 #2 2011-11-07 18:08
Haaaaaaaaaaaaa. buat bapak yang terhormat Zamhuri, S. Ag, Humas Universitas Muria Kudus, Pimpinan Redaksi Website UMK.
NULIS itu Gampang pak. Kayae bapak gak pernah muda ya. Sombong sampean
Quote
 
 
0 #1 2011-11-04 21:29
1.zaman sekarang klo gak punya relasi yo sulit cari kerja.....
2.emange buka usaha gak pake modal?

za gak bos?
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Fakultas

Ekonomi
Hukum
FKIP
Agroteknologi
Teknik
Psikologi

 

Pasca Sarjana

Ilmu Hukum
Manajemen

 

Links:

 

Fasilitas

UMK Repository

Library Gateway

E learning

Info Muria

Blog Staff

Muria Studies

Jurnal

Jurnal Internasional

Portal Ketrampilan Wajib

 

 

Barcode:

Pusat Studi

Pusat Studi Kawasan Muria

Pusat Studi Kretek Indonesia

Pusat Studi Wanita/Gender
Pusat Studi Lingkungan
Pusat Studi Pemerintah Daerah
Pusat Studi Saint,Teknologi dan HAKI

 

 

 

 

QR Code

Kemahasiswan

Portal Akademik

Info Kemahasiswaan

Alumni SI

Pena Kampus

Hubungi Kami

Universitas Muria Kudus

Gondangmanis PO.BOX 53

Bae 59324 Kudus

Jawa Tengah - Indonesia

 

Telp: 0291-438229

Fax: 0291-437198

Email: muria@umk.ac.id